Jumat, 08 April 2011

What will I do after I have graduated from this school? Look for a job or continue for school. I as the student of Islamic Senior High School I'll chose the second option, to continue for school. Because I have listen from my teacher if the knowledge is very much. He said if the knowledge wrote by a water of sea as ink it not enough. I want to be one of hundred someone that popularly because their knowledge.

After I've graduated from this school I'll continue my journey for look for more knowledge moreover make a new knowledge. By continue school in University. My father ever notice me if me must be better than him. I always effort to be more smart as well as in religion knowledge or in public knowledge.

I've plan which one university will I choose? I'll choose the university that match with my skill. Such as now I have skill in language especially in Arabic language. I think I have to choose a majors of language. Why? Because I know if the student study about something dislike him. It will failed, because he will'nt to serious for study it. Moreover he will hate it. And if student study about something that like by him. The study will happy, can be serious and everything will easy for him. Because he love it. So, I'll choose the university that match with my skill. Like as Maroko University, I think I complitable over there. I can study Arabic Language more and get some experience talking and conversation with the foreign tourism. And I'll make my parent happy.

Rintik Kasih Sayang di Sajadahku (Part1)

Kekecewaan yang terpancar dari wajah Rozi lebih mencekam dari pancaran sinar matahari 90 derajat karena keinginannya tidak tersampaikan. Bagiamana tidak kerinduannya akan Nenek tercinta di kota nanjau sana tidak diijinkan oleh Kepala Keamanan Pesantren Zainul Hasan. Geram, kecewa dan kesal tercampur aduk merata di mukanya. Diapun bergegas untuk mengambil wudlu'. Karena dia sadar satu-satunya cara mengobati rasa yang mengganggu hati tersebut adalah dengan bermunajat kepada Allah sang pencipta alam.

    Sholat rawatib yang tak pernah terlewatkan menemani sholat fardlu sudah menjadi keseharian santri. Begitu pula dengan Rozi, tidak pernah meninggalkannya. Setelah usai menunaikan satu dari rukun islam itu Rozi langsung bermunajat kepada Rabbnya. "Ya Allah sang Tuhan Pencipta Alam Semesta, Dzat yang tak pernah tidur dan istirahat. Dzat yang maha sempurna. Dzat yang tidak pernah lengah sedikitpun dari apapun yang terjadi di Jagad Raya ini. Hamba sebagai ciptaan yang tak ada harganya didepan hadapanMu meminta perlindungan dari Dzat yang Maha Kuat. Berikanlah hambamu ini sedikit kekuatan untuk bertempur melawan musuh haqiqinya yaitu syaitan yang terkutuk. Syaitan yang dengan keberadaannya nerakapun diciptakan, karena keberadaannya kehidupan Nabi Adam di Surga Firdaus terganggu. Ya Allah berikanlah aku sepercik kesabaran dari Nabiku Ya Allah. Sehingga hambamu ini dapat menyebrangi lautan cobaan yang engkau bentangkan di depan hamba. Jauhkan Hamba dari godaan syaitan terkutuk, dan pula api neraka. Hanya padaMu hamba meminta Ampunan atas segala dosa-dosa yang telah hamba lakukan baik sengaja dan tidak sengaja, baik kecil maupun besar, baik pada manusia dan padaMu ya Allah. Ampuni ya Allah. Ashtaghfirullah…… Ashtaghfirullah…………Ashtaghfirullah……… "rabbana atyna fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanataw waqina 'adzabannar".

    Setelah puas bermunajat kepada rabbnya. Ia bergegas untuk beristiahat sebagai persiapan untuk menghadapi hari esok. Pagi hari yang cerah saat Para Malaikat turun ke bumi untuk menabur Rizki ia sudah tersungkur khusyu' di dalam sujudnya setelah usai menunaikan Sholat Sunnah Dluha pagi itu.

*******

Di belakangnya ada sesosok bayangan yang hendak mengganggu kekhusyukan sujudnya. Sselangkah demi selangkah bayangan itu terus mengendap-endap mendekati Rozi. Rozi menyadari bahwa ada sesuatu yang duduk di belakangnya. Spontan ia langsung duduk dan betapa terkejutnya bawha ia adalah Billy teman se-sakannya. "Akhi, apa aku mengganggumu?" Tanya billy. "Tidak, memangnya ada apa akhi?" Jawabnya. "Ust. Toger memanggilmu di Kantor Keamanan." Kata Billy. "Ah, jangan bercanda kenapa akhi!" canda Rozi. "Ini beneran akhi, engkau kira aku tidak pernah serius!" bantah Billy. "Okelah aku akan ke sana! Tapi awas kalau kau bohongin aku." Tantang Rozi. "Sudah cepat sana akhi, awas digundul ya akhi!" canda Billy. Rozi membalasnya dengan senyum kecil.

    Maklum saja Kantor Keamanan memanglah tempat yang angker bagi kami. Kebanyakan mereka yang dipanggil ke Kantor Keamanan pastiakan dijatuhi sanksi. Jika tidak digundul, dicambuk, didenda, diberdirikan, disiram air kotor dan banyak lagi macam hukumannya.

    Dengan pikiran tidak karuan Rozi melangkahkan kakinya menuju Kantor Keamanan memikirkan apa yang akan ia alami di sana. Tidak terasa dia sudah ada di depan pintu Kantor Kemanan. Pintu besar dai kayu jati, dipoles pelitur yang coklat pekat dan ada motif tribal set yang membuatnya semakin angker saja dilihat. Tergantung juga papan yang bertuliskan "Dilarang Masuk Kecuali Pengurus Keamanan" menandakan kerahasiaan yang ada dilamnya sangatlah dijaga.

    Tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya. Rozie kaget dan mundur selangkah. Dan ternyat yang menampakan kepalanya adalah Ust. Toger yang memang mencariku. "Akhi Rozi tunggu di dalam. Saya ada urusan sebentar." Suruhnya. "Ba…baik…ustad" bibir dingin Rozi menjawabnya dengan sangat sulit. Ust. Togerpun bergegas dan lenyap ditelan tembok-tembok bangunan pesantren.

    Rozipun melangkah masuk. Langkah demi langkah ia tapakkan kakinya. Lalu di depannya ada kursi yang terbuat dari kayu nangka berbentuk "V" dan berarsitektur kejawaan. Diapun duduk diatasnya. Ia memerhatikan setiap sudut kantor tersebut. Kantor megah yang sangat ditakuti oleh setiap santri karena siapa saja yang masuk ke dalamnya akan mendapat masalah dan akan disanksi pula. "Tapi apakah aku juga akan bernasib naas." Pikirnya dalam hati.

******

    "Kriiiiiiiiiiit" daun pintu terbuka. Muncul sesosok manusia yang berperawakan pendek, gagah dan misterius. Tiba-tiba ia berkata "Akhi Rozi barusan abahmu menelfon saya. Katanya kamu disiruh pulang untuk menghadiri reuni keluarga di Kediri." Wajah muram yang barusan terpasang di wajah Rozi kine berubah menjadi cerah karena hajatnya untuk menghadiri reuni keluarga di Kediri diizinkan. "Lantas bagaimana dengan perizinannya Ustad?" tegasnya. "Itu semua tanggung jawabku. Sekarang berkemaslah dan hadiri reuni itu. Setelah usai lekaslah kembali ke ma'had" jawab ustad. "Terima kasih banyak ustad" cetusnya.

    Allah berfirman;

ÎŽô£ãèø9$#
#·Žô£ç
ìtB
bÎ*sù
ÇÎÈ

Artinya :     "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan" Q.S.Alam Nasyrah;6

    Sesunguhnya Allah telah menegaskan bahwa setiap kesulitan yang Ia berikan kepada hambaNya perlahan akan menjadi kemudahan. Maka janganlah bersusah dan mengeluh saat menerima cobaan dari Allah. Percayalah semua itu akan berkahir dengan bertawakkal sepenuh hati, berikhtiar sekuat tenaga dan qonaah setulus jiwa.

******

    Sejurus kemudian Rozi telah siap untuk berangkat ke tanah perenduannya. Kini ia berada di depan altar pesantren. Altar perkasa yang mengisahkan perjuangan syiar Islam yang tak kenal menyerah. Penuh dengan aroma religious yang oriental dan ditaburi ribuan santri yang mondar-mandir menenteng kitab klasik di tangannya hanya demi kemanfaatan ilmu. Ia menengok ke belakang dan mengucapkan selamat tinggal kepada pesantrennya itu. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh ya ma'haddy".

    Bus jurusan Surabaya tiba. Rozi bergegas menaiki bus tersebut meski dengan sedikit rasa sedih meninggalkan pesantrennya. Rozi melihat kanan dan kirinya. Dipun memutuskan duduk di kursi paling belakang. Dia meletakkan tasnya di sampingnya. Lalu membuka tasnya dan mengambil dompetnya dan menyeruput lembaran uang dua puluh ribuan untuk persiapan kernet menagih biaya karcisnya. Beberapa menit kemudian si kernet dating. "Ke mana mas?" Tanya kernet acuh tak acuh. "Ke Terminal Bungurasih pak! Berapa?" jawabnya. "Dua Belas Ribu!" tagihnya. Rozi memberikan selembar dua puluh ribuan tadi dan langsung dikembalikan kembalian bersama karcisnya.

    Udara pagi itu cukup sejuk karena sejak pagi tadi matahari tidak menampakkan sinarnya. Maklumlah sekarang bulan Maret, klimaksnya musim hujan. Rintik-rintik hujan mulai turun dan melukis citraan abstrak di kaca bus akas IV. Rozi mulai merasakan udara dingin yang menusuk-nusuk pori-pori kulitnya. Iapun mengelurkan jaket sweaternya, dan lekas mengenakannya. Kini ia tidak lagi dihantui hawa dingin. Ia merasakan kedua kelopak matanya secara otomatis mulai tertutup. Sekejap kemudian ia telah berpindah alam. Dan bus jurusan Surabaya terus melesat menerjang hujan lebat hari itu.

*******

    "Mas, mas, mas sudah sampai terminal bungurasih!" kata si kernet. Rozi bangun dari tidurnya dan tersipu malu. "Iya mas, terima kasih" jawabnya. Rozi menggendong tasnya dan melangkah turun dari bus yang ditumpanginya. Ia menengok matahari yang sejak pagi tidak menampakkan dirinya kini sudah ada di koordinat 130º. Mega kuning yang terpancar dari celah-celah awan menandakan waktu ashar sudah hampir usai. Rozi segera melesat ke Musholla terdekat. Ia berwudlu dan segera melaksanakan sholat Ashar yang di-jamak qosor dengan Dluhur. Seusai melakasanakan kewajibannya sebagai muslim ia beristirahat sejenak melepas penat karena sebentar lagi ia harus naik bus lagi dari Surabaya ke Kediri dengan bus jurusan Trenggalek.

    Ia berjalan menapaki jalur setapak Terminal Bungurasih. Di setiap sudutnya Rozi mendapati manusia sedang mengais rizki. Dari pengamen, pengemis, penjual asongan, warung makan, kedai koran, penjaga toilet dan jasa angkut barang. Bagai kawanan semut yang mendapat sebongkah roti. Paran calon penumpang mengerumuni setiap bus yang lewat. Sekedipan mata saja bus yang awalnya kosong sudah penuh dengan penumpang, ada yang duduk dan ada pula yang berdiri. Sore itu suasana di Terminal Bungurasih sangat ramai dan padat dengan calon penumpang. Rozie yang baru kali pertama melalukan perjalanan ke Kediri sendirian bingung apa yang harus ia lakukan. Ia memutuskan menunggu bus yang tidak penuh dengan penumpang.

    Bus demi bus lewat di depan hadapan Rozi. Tapi tidak ada satupun yang tidak penuh dengan penumpang. Rozipun mulai putus asa. Ia berpikir jika ia lebih baik kembali ke pesantrennya. Semakin malam semakin banyak pula calon penumpang yang datang dan mengerumuni setiap bus yang lewat. "Kepada para calon penumpang dihimbau agar bersabar karena terjadi macet total di Jalur Barat dan Porong. Sebentar lagi bus akan segera datang dan jangan khawatir tidak kebagian bus, armada kami cukup banyak. Terima Kasih." Suara itu datangnya dari pengeras suara kantor utama Terminal Bungurasih.

    Roziepun menengkan pikiran dengan meneguk sebotol Pocari Sweat. Ia memutuskan untuk menunggu lebih lama lagi. Hingga ada bus yang tidak penuh dengan penumpang. Namun kian bulan melangkah setapak lebih tinggi para calon penumpang bertambah seratus. Dengan berat hati Rozipun memutuskan untuk rela berjubel naik bus yang penuh sesak dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Ia membayangkan bahwa perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang berat. Sepanjang perjalanan ia akan berdiri di tengah bus bersama dengan orang-orang yang tidak ia kenal. Dan dalam ancaman copet.

*******

    Rozi yang telah menunggu dari jam 05.00 harus rela beridiri di bus. Penuh sesak dan tidak nyaman. Udara yang pengap mengganggu pernafasan. Ia melihat sekitarnya. Tepat di sebelah kanannya ada sejoli yang berpelukan melepas dinginnya malam. Di sebelah kanannya ada seorang yang mengenakan kerudung putih dan daster hitam bergaris perak. Ia menata buku bahasa Arab yang dibungkus plastic di dalam tasnya. Rozie mengira ia adalah muslimah yang bias menggunakan bahasa Arab. Namun Rozi tidak dapat melihat paras wajahnya karena dalam sesaknya bus dan tertutup daun kerudungnya. Rozi hanya bisa memperhatikan kerudung putihnya dan jemari yang lincah menekan tombol-tombol handphonenya.

    Rozie ingin menyapanya, tapi ia tidak punya cukup nyali untuk melakukan itu. Ustadnya pernah berpesan kepadanya. "Jika engkau telah memiliki cukup bekal dan tujuan yang pasti. Dan engkau mengalami kegagalan. Engkau pasti bertanya. Apa yang kurang?. Keberanian". Rozi sudah merasa memiliki perbekalan bahasa Arab yang lebih dari cukup dan tujuan sudah ada di depan mata. Kini Rozi harus mengalahkan dirinya sendiri untuk tidak membelot dan membisu. Rozi mengumpulkan nyali dan keberanian. Ia menarik nafas panjang dan megucap basmalah. "bismillahirrohmanirrohim".

*******

    Dengan hati-hati dan suara yang jelas ia mengatakan. "Ila ayna ukty?". Wanita itu menoleh dan hanya memelototi Rozie. Perlahan bibir manisnya menyungging senyum dan mulai membinarkan matanya. Seuntai suara mengalir merdu ke daun telinga Rozi. "Ila Jombang akhy." Rozi masih membisu tersengat aliran listrik 2000 volt. Rozi dikagumkan oleh kecantikan dan keanggunan ciptaan Allah yang satu ini. Makhluk yang ditugasi untuk menemani sang Adam dan menghisasi dunia ini. Suara itu tetap bergema di telinga Rozi. "Akhy, ila ayna?". Rozi tersentak dan kelalapan "Ehm…ehm….ila Kediri ukty. Limadza tadzhabu ila jombang". "Sa arji'u ila baity" kini jawaban itu diiringi dengan sedikit canda. "Ooooo……min ayna anti".

    Terjadi perbincangan panjang bahasa arab antara dua insan yang baru bertemu ini. Yang membuat pandangan seisi bus terarah ke sana. Rintik hujan terus menetes mengejukan suasana pengap di dalam bus. Rasa penat, capek dan lesu kini tenggelam dalam asyiknya perbincangan yang kian lama semakin dalam menyelami gua sejarah kehidupan dua insan ini.

    "Man ismuka?" lirih wanita berkerudung putih itu. "ismy…..ehm….fi surotil al-jum'ah, ayatil akhiroh." Jawab Rozi. "madza……!" herannya. "jarrib fi ayatil akhiroh, surotul al-jum'ah. Madza…?" Tanya pemuda itu untuk yang kedua kalinya. "Ehm…..saya gag hafal." Jawab wanita itu dengan tersipu malu. "Wallahu khoirur roziqin." Rozi agak sedikit melantangkan suaranya. "Oh…sebaik-baiknya rizki ya?" tegas wanita itu. "shohih, a…man ismuki?" pemuda itu berbalik tanya. Wanita itu menjawab dan bertanya "Bisa bahasa sansekerta engga'?". "Enggak bisa?" kali ini Rozi yang tersipu malu.

Rintik Kasih Sayang di Sajadahku (Part2)

" Wanita itu berkata "Bahasa sansekertanya satu apa?". "Mana saya tahu" Jawab Rozi. "Eka" kata wanita itu. "O…..Eka Patrio?" candanya. "Bukan, itu namanya pelawak" wanita itu menidakkan sambil tertawa kecil. "Hehe, kirain Eka yang itu."candanya.

    Datik itu menjadi detik pertama canda tawa dua insan yang baru bertemu itu. Rintik hujan masih tetap berjatuhan dan membasahi kaca bus malam itu. Waktu tak lagi terasa menjelma dalam nirwana keceriaan yang tiada tara. Memendam sejuta masalah dan problematika yang mereka alami. Sesak penumpang tidak lagi menjadi masalah untuk canda mereka.

*******

Detik berganti menit, menit berganti jam. Tak terasa bus itu telah melesat jauh dari Terminal Bungurasih menuju perbatasan kota Jombang. Eka mulai menggendong tas besar hitamnya. "Udah mau turun nih eka?" tanya Rozi. "E'em, mau ikut turun tah" candanya lagi. "Enggak ah, ntar ada yang marah lagi?" celetuk Rozi. "Yeee, Eka masih bujang kali. Eh Roz, boleh minta nomer HP-nya engga'?" tanya Eka. "Boleh" jawab Rozi.

Rozi membuka kontak di HPnya untuk melihat nomer HPnya. Wajar saja dia baru menggunakan nomer itu satu minggu yang lalu. Sebelum Rozi membacakan nomer HP-nya bunyi cakram bus berbunyi mendahuluinya. Eka terpaksa turun tanpa nomer HP yang dimintanya. Sesampainya di bawah wanita itu melambaikan kedua tangannya sebagai tanda perpisahan. Rozipun hanya meratapi wanita yang perlahan hilang ditelan kegelapan malam itu.

Bulan puranama malam itu menjadi saksi bisu perpisahan dua muslim yang baru saja bertemu. Deruman mesin bus adalah instrument pengiring musyafahah itu.

******

Sejurus kemudian Rozi sudah sampai di alun-alun Kediri. Diapun turun dan langsung memanggil tukang becak yang berada sekitar empat hasta dari pendiriannya. Dan berkata "Cak, nang Bandar Kidul!" Kang becak menjawab "Monggoh".

Becak melesat melewati jembatan Sungai Brantas dan mengambil halauan kiri di pertigaan lampu merah. "Kang, dek ngarepe bakul baksu niku nggeh!" suruh Rozi. "Inggeh" jawab Abang Becak. Rozi mengeluarkan dompet hitamnya dan mengambil selembar uang lima ribuan, lalu menyerahkannya ke Abang Becak.

Kini Rozi berada di halaman rumah berarsitektur portugis dengan pagar melati yang melingkar di setiap sudutnya. Terlihat seberkas cahaya yang menembus tirai belakang jendela rumah. Rozi melangkah mendekati pintu masuk.

Rozi mulai mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum… Assalamu'alaikum…" Rozi menucap salam. "Wa'laikumsalam…" jawab orang itu. "Lho sampean tah Dan. Boten tilem?" tanya Rozi. "Boten mas." jawab Dani. "Abah teng pundi?" tanya Rozi lagi. "Boten ngertos mas". Dani menjawab.

Sesampainya di rumah neneknya Rozi ingin menemui Abahnya. Dia melihat setiap sudut rumah tapi na'as Abah Rozi sepertinya tidak di sana.

Rintik Kasih Sayang di Sajadahku (Part3)

Rozi melihatnya di ruang tamu tapi tidak ada. Dia menuju dapur, musholla, dan kamar tidur tapi tak ada juga Hanya ada Ummi dan dua adiknya yang tertidur pulas. Dia menanyakannya kepada Dani "Dan Abah mana?". Dani menjawab "Boten ngertos mas?".

Rozi mendengar suara ketukan pintu, dan ada seseorang yang mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum!". Rozi segera menjawab "Wa'alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh!". Rozi mengalihkan pandangannya ke balik daun pintu dan ia mendapati sesosok pria berjaket hitam membawa sekantong plastik hitam di tangan kirinya. Pria itu berkata dengan suara yang cukup lantang. "Lho, kamu sudah ada di sini toh le?". Rozi menjawab "Iya bah, saya nyari sampean keliling rumah gag ketemu-ketemu bah". "Saya yang nyari-snyari kamu keliling Kediri gag ketemu-ketemu. Katanya mau turun di terminal lama, eh malah sudah ada di rumah. Ini abah belikan STMJ biar tidak kedinginan". Gerutu abahnya. "Ooh, tadi busnya lewat kota bah, jadi tidak lewat di terminal lama. Saya langsung turun di alun-alun aja. Terus naik becak. Nyampek deh"

Malam itu kerinduan anak pada ayahnya telah terobati. Kekhawatiran ayah pada anaknya telah terjawab pula. Ditemani sinar rembulan malam ayah dan anak ini bercengkrama hingga rembulan ada di posisi 120º. Dan disambung dengan sholat tahajjud tak lupa wittir sebagai penutup sholat malam itu.

*******

    Matahari pagi menyingsing berselimut cahaya keemasannya menembus jiwa menumbuhkan semangat baru. Setelah usai menunaikan ibadah sholat sunnah dluha Rozi mengenakan celana hitam oxford dan busana muslim putih ala Ustad Jefri.

    Sedari rumah Rozi sudah diberitahu jika di acara Reuni itu dia dipasrahi tanggung jawab sebagai Morning Ceremony. Rozi bergulat dengan dirinya sendiri untuk mengumpulkan segenap mental yang ia miliki. Ia bermaksud untuk tampil semaksimal mungkin di hadapan keluarganya, tertama kedua orang tuanya.

******

Kini Rozi sudah duduk di segena anggota keluarga besarnya. Abahnya member aba-aba untuk memulai acara. Dengan suara lantang dan menggema ke kalbu Rozie mengucapakan salam "Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh!". "Wa'alaikum Salam Warahmatullahi Wabarokatuh" segenap hadirin menjawab salamnya dengan serentak. Rozie melirik ke kanan dan ke kiri melihat keluarga yang sangat antusias dan Rozi sayangi.

Terlihat di kejauhan Lely adik sepupu Rozi duduk berbalutkan kerudung biru langit. Di samping kanannya ada Bi' Ruroh dan kedua anaknya Nabilla dan Salma.

Sambil terus melihat satu-persatu keluarganya Rozi meneruskan pembukaan acara. "Keluarga H. Badawi yang dimuliakan Allah. Allahamdulillah kita ucapkan kepada Tuhan sang pencipta alam yang masih memberi kita kasih sayangnya sehingga……….." Rozi diam terbungakam seribu kata. Mulutnya terbuka bagaikan gua Hiro'. Pikiran melayang jauh dihempas angin muson timur. Matanya berkaca-kaca memandangi apa yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Rintik Kasih Sayang di Sajadahku (Part4)

Sesosok perempuan berkerudung hitam berkilau, wajah yang bersinar bak matahari pagi, dan tatap mata yang memukau seluruh adam yang melihatnya membuat Rozi tak berkedip apalagi setelah ia sadar bahwa ia adalah sosok wanita yang baru saja dijumpainya kemarin malam di Bus.

"Kenapa berhenti Ros?" Abah Rozi menegur heran.

"Eh...Iya....Bah....Anu.....Itu...." Rozi hanya bisa menjawab dengan gelagapan.

"Terusin dah!" Perintah Abahnya.

"Maaf ada masalah sedikit. Alhamdulillah kita keluarga besar H. Badawi bisa berkumpul dan bermu'ajjahah di tempat yang syarat dan pedat dengan barokah ini dalam keadaan jasmani dan rohani yang sehat wal 'afiyat". Rozi meneruskan pembukaan acara sambil terus memferifikasi benarkah wanita yang berkerudung hitam berkilau itu adalah wanita yang pernah ia temui kemarin malam.

******

Di tengah-tengah acara Reuni Rozi meminta diri untuk ke kamar kecil sebentar dan abahnyapun merelakannya.

Di benaknya Rozi berfikir ini kejadian yang sangat unpredictiable dan tidak disangka-sangka. Siapakah gerangan. Datang tanpa diundang dan tiba-tiba. "Mungkin ini hanya kebetulan saja". Hati kecil Rozi berkata menganggap masalah ini acuh tak acuh. Rozi bergegas kembali melesat menuju acara Reuni kembali.

"Hadirin dan Hadirot yang dirohmati Allah. Dengan pembacaan do'a tadi berakhirlah Acara Reuni Keluarga Besar H. Badawi tahun 2010-2011." Rozi meneruskan pembawaan acara hingga selesai.

******

Di sisi lain wanita yang telah bertemu dengan Rozi di bus kemarin. Wanita anggun bernama panggilan Eka itu merasakan penasaran yang sama dengan apa yang berkabut di hati Rozi.

"Aku rasa, aku pernah melihat laki-laki itu?" tanya Eka dalam hatinya. Eka mencoba mengulang lintas memori yang telah terjadi sekitar beberapa jam yang lalu. Setelah berusaha keras sejanak Eka mendapatakan gambaran sekilas tentang wajah pria itu. Dan ia membenarkan bahwa yang menjadi pembawa acara tadi itu adalah si pria yang ada di bus.

Eka pun mau minta diri kepada kedua orang tuanya untuk sejenak ingin menemui sepupunya. Dan orangtuanya pun memberi idzin dengan syarat tidak terlalu lama. Eka menjelajah seisi rumah peninggalan kakek moyangnya yakni H. Badawi.

******

Saat tamu sudah bertaburan keluar menuju mobil masing-masing, Rozi teringat keberadaan sesosok wanita tadi. Rozi melesat keluar podium dan kelayapan di antara mobil-mobil yang menggeram. Sesekali ada seseorang yang mengetahui Rozi sebagai Pembawa Acara mengucap salam sebagai tanda perpisaha, tapi Rozi terlalu gundah untuk mendegarkan dan menjawabnya.

Kedua bola mata Rozi berputar 180⁰ menyapu seluruh sosok wanita berkerudung hitam yang berlalu-lalang ke sana ke mari. Namun tak ada sosok yang terlihat seperti Eka. Api semangatnya mulai pada dimakan keputusasaan. Usaha Rozi tidak sampai situ saja.

Matahari ada di 90⁰ koordinat langit. Panasnya mencekam dan memerintah keringat yang ada di dalam pori-pori untuk keluar dari tempatnya. Rozi mulai menggali lubang untuk memendam harapannya menamui Eka lagi.

"Assalamu'alaikum akhy!" nada suara asing yang tidak pernah Rozi dengar sebelumnya menelusup masuk ke lubang telinganya.

"Wa'alaikumsalam!" sembari menjawab Rozi juga menoleh untuk meleihat siapa gerangan yang mengucap salam.

"Ashtagfitullah..!!!" tubuh Rozi sedikit terlempar kebelakang karena keget mendapati sesosok wanita berkerudung dan bergamis putih bersinar memantulkan sinar matahari ke relung Hati Rozi.

"Kenapa Roz?" tanya wanita itu panik.

"Tidak apa-apa. Ini Eka yang di bus kemarin malam itu ya?" Tanyanya

"Iya. Ini juga Rozi yang ketemu Eka di bus itu khan?" Ekabalik bertanya.

"Iya. Eh ukhty kok ada di sini?" Rozi bertanya tentang suatu yang masih tidak jelas.

"Ooh....Gini lho Zi. Eka tadi ke rumahnya temen Eka, namanya Mita. Terus sama keluarga Mita Eka di ajak ke sini. Eh, malah ketemu sama Rozi lagi." paparnya terperinci.

"Ooooo gitu toh. Eka ken..." sebelum Rozi menyelesaikan kalimatnya, gadis itu menyerobot lebih dulu.

"Eh itu Mita!" sembari jempolnya menunjuk ke arah Mita dengan jari lain terlipat ke dalam. Rozi melihat sosok gadis muda berumur sekitar 14 tahun yang mengenakan kerudung bermotif lembut berwarna hijau muda. Kedua matanya bulat bagai kelereng. Kulitnya putih bersih laksana susu. Senyumnya manis nan menyejukkan seperti bidadari.

"Lho Mbak Eka. Ini mas yang jadi Pembawa Acara tadi itu khan?" tanya Mita penasaran.

"Iya saya Mit!" ringkas Rozi menjawab.

"Kenalkan mas. Nama saya Mita!" sambil megulurkan tangan ke arah Rozi.

"Saya Rozi" jawabnya lagi ringkas.

"Huz!!! Mit bukan mahram!!!" Eka berbisik pilu.

"Eh iya...!!!" Mita menarik lagi uluran tangannya dan menyimpannya di saku bajunya. Dengan wajah memerah.

"Roz, tadi pas jadi Pembawa Acara bagus banget deh! Berwibawa banget, kayak presiden aja!" puji Eka pada si pembawa acara.

"Ah biasa aja kali ukhty!!! Sudah biasa di Pondok seperti itu.

******

"Mita...Eka...mobilnya sudah siap ini. Buruan kembali" terdengar dari seberang lapangan parkir suara Abah Mita yang menyuruh kedua perempuan ini untuk kembali pulang.

"Rozi, Eka mau pulang dulu yach. Udah ditunggu sama keluarganya Mita" Eka pamit pulang.

"Mita juga mas" gadis itu juga menyusul.

"Assalamu'laikum" Kedua perempuan itu mengucap salam.

"Wa'alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh" Rozi menjawab salam itu.

Kedua sosok perempuan berjalan menuju oerinduan mereka hingga lenyap ditelan daun pintu mobil Avanza VVT-1 silver di seberang sana. Kedua bola mata Rozi mengikuti laju mobil yang perlahan kian tiada disamarkan oleh jarak. Dengan langkah sedikit lesu Rozi melangkahkan kedua kakinya menapaki jalan setapak ke arah rumah Neneknya.

******

ÉOó¡Î0
«!$#
ÇuH÷q§9$#
ÉÏm§9$#
ÇÊÈ

Kamis, 24 Februari 2011

Majalah Example

Edisi ke-2
Edisi ke-3

Edisi ke-4


Edisi ke-5

Edisi Perdana

STRUKTURAL KEPENGURUSAN “LOGISS” MADRASAH ALIYAH MODEL ZAINUL HASAN GENGGONG MASA BHAKTI 2010-2011


Kepala sekolah            : Ust. Nastangin, SE
Pembina                      : Ust. Badrut Tamam
Pimpinan Umum          : Khoirur Roziqin
Sekretaris                    : Puji Lestari Ningsih
Bendahara                  : Intan Megawati
Pimpinan Redaksi       : Ahmad Ghozali
Reporter                      : Nur Elisa
                                     Lailatul Qomariyah
                                     Jefry Eko Juniawan
                                     Nilna Hasanati
                                     Dian Rohmatul
Fotografer                   : Ussisa Ala Taqwa
                                     Sofyan Hidayatullah
Layouter                      : M. Zainuddin
Divisi Iklan                   : Abdul jalil                             
Desaigner                    : M. Rudi Setiawan
Distrbutor                    : M. Hafidz